Saat kursi kepemimpinan kosong, perusahaan biasanya berdebat di antara dua pilihan. Mempromosikan orang dalam yang sudah dikenal, atau merekrut orang luar yang membawa pengalaman baru. Perdebatan ini sering berakhir pada selera, padahal bisa diputuskan dengan lebih jernih.
Kapan dari dalam lebih masuk akal
- Pekerjaannya menuntut pemahaman mendalam tentang budaya, pelanggan, atau cara kerja yang khas perusahaan.
- Sudah ada kandidat yang disiapkan, bukan sekadar orang yang paling lama bekerja.
- Arah usaha tetap sama dan yang dibutuhkan adalah kesinambungan.
Kapan dari luar lebih masuk akal
- Perusahaan sedang berubah arah dan butuh keahlian yang belum ada di dalam.
- Masalahnya justru kebiasaan lama yang perlu dilihat dengan mata baru.
- Tidak ada kandidat dalam yang siap, dan waktunya tidak bisa menunggu.
Apa pun pilihannya, mulai dari profil kursinya
Sebelum membicarakan nama, tuliskan apa yang harus dicapai orang di kursi itu dalam dua tahun, keputusan sulit apa yang akan ia hadapi, dan dengan siapa ia harus bekerja. Profil ini membuat kandidat dalam dan luar bisa dinilai dengan ukuran yang sama.
Perusahaan yang rutin menyiapkan calon pemimpin punya pilihan saat kursi kosong. Perusahaan yang tidak, terpaksa memilih di bawah tekanan.
Pertanyaan yang salah adalah siapa yang paling layak. Pertanyaan yang benar adalah apa yang dibutuhkan kursi itu.




