Di banyak usaha, jalur menjadi atasan hampir selalu sama. Orang yang paling cepat, paling teliti, atau paling banyak menjual dinaikkan jabatannya. Hari Senin ia masih mengerjakan sendiri, hari Selasa ia diminta memastikan orang lain yang mengerjakan.
Masalahnya, kemampuan yang membuatnya dipromosikan bukan kemampuan yang dibutuhkan di kursi barunya. Mengerjakan dengan baik dan membuat orang lain mengerjakan dengan baik adalah dua keahlian yang berbeda.
Tiga jebakan yang paling sering muncul
- Tetap mengerjakan sendiri. Lebih cepat dikerjakan sendiri daripada menjelaskan. Lama-lama timnya tidak tumbuh dan ia kelelahan.
- Sungkan kepada teman lama. Kemarin rekan sebangku, hari ini harus menegur. Teguran ditunda sampai masalahnya membesar.
- Mengukur diri dengan cara lama. Ia merasa produktif hanya kalau hasil kerjanya sendiri terlihat, padahal ukurannya sekarang adalah hasil kerja tim.
Yang bisa disiapkan perusahaan
Atasan baru tidak perlu dibiarkan belajar dengan cara jatuh bangun. Beberapa hal sederhana membuat masa peralihannya jauh lebih ringan.
- Tuliskan apa yang berubah. Daftar pendek tentang keputusan apa yang kini menjadi wewenangnya dan apa yang tetap di atasannya.
- Beri satu pendamping. Atasan yang lebih senior, bukan atasan langsungnya, yang bisa ditanya tanpa takut dinilai.
- Latih tiga percakapan dasar. Membagi tugas, memberi umpan balik, dan membicarakan kinerja yang turun. Ketiganya bisa dilatih, bukan bakat bawaan.
Promosi seharusnya menjadi awal sebuah pelatihan, bukan hadiah di akhir prestasi.
Perusahaan yang menyiapkan atasan pertamanya dengan sengaja sedang membangun bangku cadangan pemimpin dari dalam. Itu jauh lebih murah daripada terus mencari dari luar setiap kali kursi kosong.




